src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js">

Denny Siregar: Jokowi Itu Macan, Bukan Tikus

JAKARTA, Garuda Nusantara - Tanpa banyak publik yang sadar, sebenarnya sejak beberapa waktu lalu ada gerakan-gerakan kecil yang mencoba membangun persepsi menurunkan Presiden. Enggak tahu kenapa, mereka sepertinya enggak sabar banget Jokowi memimpin sampai 2024. Mungkin karena terlalu lama, dan mereka sudah karatan menunggunya.

Ini bukan paranoid ya, tapi kita bisa melihat keping-keping petunjuk supaya bisa membayangkan seperti apa gambar besarnya. Keping pertama adalah saat kontroversi lockdown dan kontra-lockdown, waktu awal Covid-19. Ada beberapa pihak, bahkan partai yang dengan sistematis membangun wacana supaya Indonesia lockdown. Bahkan beberapa kepala daerah yang berada dalam satu garis partai, sudah melakukan lockdown duluan tanpa koordinasi dengan pusat.

Itu jelas memainkan persepsi supaya pusat dianggap lemah dan tidak berwibawa. Tapi pemerintah pusat mengambil jalan lain, yaitu lewat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dengan PSBB, urusan penanganan Covid-19 banyak diserahkan ke daerah, dengan begitu serangan ke pusat pun jauh berkurang.

Dan berhasil, orang kemudian fokus pada daerahnya masing-masing dan memunculkan panggung-panggung baru yang diisi oleh beberapa kepala daerah. Sesudah fase PSBB dilakukan, sekarang masuk ke fase new normal untuk memulihkan ekonomi negeri. Karena sesudah gempa besar Covid-19, tsunami resesi ekonomi sedang datang ke sini. Dan itu sudah disuarakan banyak pengusaha besar, bahwa mereka hanya bisa bertahan sampai bulan Juni. Kalau tidak, bulan Agustus diprediksi akan terjadi PHK besar-besaran.

Mereka membuat perangkap untuk menjebak tikus. Sayangnya mereka lupa. Yang dihadapi macan, perangkapnya kekecilan. Dan perhatikan, siapa mereka yang menolak new normal? Ya, mereka lagi mereka lagi. Partai dan orang-orang yang kemarin menyerukan lockdown. Narasi mereka bahkan lebih sadis, "Kalau new normal dilakukan, akan terjadi pembunuhan massal." Ngeri.

Memangnya kenapa mereka tidak ingin new normal? Supaya nanti PHK besar-besaran terjadi di negeri ini. Pengangguran meluas. Dan orang lapar akan mudah diprovokasi untuk membuat kerusuhan. Lihat saja kalau itu terjadi, siapa yang akan bertugas mengompor-ngompori? Ya, mereka itu lagi, partai-partai itu lagi, yang pengin lockdown, yang juga menolak new normal. Dan kelak mereka yang akan berteriak, "Jokowi gagal, turunkan segera!"

Mereka membuat perangkap untuk menjebak tikus. Sayangnya mereka lupa. Yang dihadapi macan, perangkapnya kekecilan. Keping kedua adalah isu lama dan basi, yaitu isu PKI. Cuma kali ini isu itu dibungkus lebih rapi dengan memunculkan isu Islam versus PKI supaya gaungnya lebih besar.

Islam yang mereka bangun, diwakilkan dengan para habib. Ketika Bahar keluar dari penjara, niat mereka akan menggiring perlawanan terhadap PKI. Dengan begitu, mereka berharap akan mendapat simpati karena membawa agama sebagai jualannya. Dan siapa PKI-nya?

Kita sudah tahu bahwa sejak lama mereka selalu menuduh Jokowi dan pemerintah yang berkuasa sekarang ini diisi banyak anggota PKI. Sayangnya, mereka gagal maning gagal maning. Rakyat sudah cerdas, bukannya dapat simpati, mereka malah jadi bahan tertawaan di mana-mana. Malah sekarang mereka coba mengerucutkan isu PKI itu ke Direktur TVRI yang baru dipilih, Iman Brotoseno. Enggak bisa melawan Jokowi, ya lawan Dirut TVRI, lumayanlah daripada enggak ada.

Keping ketiga, sesudah partai bermain, ormas bermain, sekarang giliran kalangan akademisi. Kalangan akademisi ini tugasnya membangun wacana bahwa menurunkan Presiden di masa pandemi ini sah adanya. Dan itu mereka lakukan lewat meeting seminar virtual yang mereka publikasikan ke mana-mana.

Yang kalangan akademisi sok pintar ini tidak sadari adalah bahwa rakyat sudah banyak yang pintar sekarang, tidak gampang dibodoh-bodohi. Bukannya dapat simpati, mereka malah dapat protes keras dari masyarakat sendiri. Malah bukan dari pemerintah. Dan akhirnya seminar itu batal-batal sendiri. Mereka sendiri yang membatalkan.

Tapi ciri khas kelompok ini, mereka selalu mengambil sisi dizalimi. Ada yang bilang pemerintah menghalangi kebebasan berpendapat lah. Bahkan ada yang mengaku-ngaku diancam dibunuh lah. Pokoknya, pemerintah harus salah.

Mereka enggak sadar, mereka berhadapan dengan rakyat yang waras sekarang. Pemerintah malah enggak campur tangan karena rakyat bergerak sendiri menolak pembodohan yang mereka lakukan. Orang juga sudah tahu siapa tokoh-tokoh di belakang seminar itu. Ya, para barisan sakit hati yang tidak mau terima kenyataan Jokowi adalah Presiden yang sah karena dipilih sebagian besar rakyat saat Pilpres kemarin.

Pertanyaannya, kenapa kelompok-kelompok ini terus mencoba supaya Jokowi turun sebelum waktunya? Pertama, mereka sebenarnya sudah sesak napas. Sepuluh tahun Jokowi memimpin, bukan waktu yang sebentar. Dulu mereka pikir cuma satu periode saja, tapi ternyata lama. Pundi-pundi mereka sudah menipis, gerakan mereka sekarang lebih mudah dipetakan dan mereka sudah sulit mengambil ancang-ancang.

Yang kedua, di tangan Jokowi ini peta ekonomi lebih jelas arahnya. Investasi berlomba-lomba masuk, bahkan Amerika sendiri sudah mulai kesengsem sama Indonesia dan berencana memindahkan banyak pabriknya dari China ke Indonesia. Kalau negeri ini sibuk dengan ekonomi, perutnya kenyang, pendidikannya bagus, lalu kelak mereka harus membodohi siapa? Orang-orang bodoh untuk dikapitalisasi makin lama semakin berkurang.

Semua sibuk kerja nantinya, dan peserta demo nasi bungkus kelak akan menghilang. Lalu siapa yang mau jualan agama mereka, jualan propaganda mereka, dan jualan kemiskinan mereka? Bisa-bisa mereka yang miskin nantinya, karena jualan yang selama ini jadi produk unggulan mereka, sudah tidak laku. Dan mau tidak mau seperti ayah Naen, sudah harus melepas dasternya dan kembali main organ di pesta-pesta perkawinan. (Lozy BB/Pas)

COMMENTS

Nama

Advertorial,38,Anambas,8,Bandung,1,Bekasi,641,Bengkulu,177,Bengkulu Selatan,23,Cikarang,66,Headline,306,Hukum,565,Humbahas,50,Jakarta,128,Jambi,36,Jawa Barat,558,Kepahiyang,1,Kepulauan Riau,9,KualaTungkal,7,Labuhanbatu Utara,14,Labura,16,Lampung,174,Lampung Utara,129,Lampura,13,Lubuklinggau,4,Medan,1914,Megapolitan,140,Meranti,10,Mukomuko,20,Musirawas,19,Nasional,1928,Nusantara,3648,Padang,2,Pagaralam,22,Pekanbaru,5,Pendidikan,6,Politik,4,Riau,171,Rohil,387,Rokan Hilir,76,Seginim,1,Sibolangit,1,Simalungun,2,sumatera Barat,2,Sumatera Selatan,27,Sumatera Utara,1030,Tanggamus,26,Tanjabbar,7,Tanjung Jabung Barat,57,Tanjungpinang,2,Tapanuli Utara,5,Taput,2,Tulang Bawang,48,Tulang Bawang Barat,15,
ltr
item
Garuda Nusantara: Denny Siregar: Jokowi Itu Macan, Bukan Tikus
Denny Siregar: Jokowi Itu Macan, Bukan Tikus
https://1.bp.blogspot.com/-NocGKNK4zQE/XtdaYQEiGdI/AAAAAAAAIro/-VR6r4eRBm0K78pk8AuU2S3-kfJF-PQxQCLcBGAsYHQ/s640/PAK%2BJOKOWI.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-NocGKNK4zQE/XtdaYQEiGdI/AAAAAAAAIro/-VR6r4eRBm0K78pk8AuU2S3-kfJF-PQxQCLcBGAsYHQ/s72-c/PAK%2BJOKOWI.jpg
Garuda Nusantara
http://www.garudanusantara.id/2020/06/denny-siregar-jokowi-itu-macan-bukan.html
http://www.garudanusantara.id/
http://www.garudanusantara.id/
http://www.garudanusantara.id/2020/06/denny-siregar-jokowi-itu-macan-bukan.html
true
9203857902923243004
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy